Artikel

YANG MURNI YANG DITERIMA

Ditulis oleh admin on . Posted in Artikel

Di dalam Al Qur’an, Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan perumpaman yang begitu menyentuh tentang ikhlas. Sedekah yang dikeluarkan murni karena Allah, ibarat sebutir benih baik yang ditanam. Ia menumbuhkan tanaman dengan tujuh tangkai. Dan dari setiap tangkai berbuah seratus biji. Lalu di akhir perumpamaan itu Allah berfirman:

“Dan Allah akan melipatkan balasan bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas Karunia-Nya lagi Maha Mengetahui…” (QS. Al Baqarah: 261).

Begitulah Allah menutup ayat ini dengan jaminan balasan tak terhingga bagi siapa saja yang Dia kehendaki. Sebuah balasan tak terkira yang hanya Allah sajalah yang dapat menghitungnya.

 “Setiap amal itu tergantung pada niat…” begitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam suatu hari memulai sabda di hadapan para shabatnya yang mulia “…dan setiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkan. Barang siapa berhijrah untuk Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan

Rasul-Nya. Dan barang siapa berhijrah untuk dunia yang ingin didapatkannya, atau wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya kepada apa yang ditujunya. “ (HR. Bukhari Muslim)

 Masih tentang ikhlas, dari Abu Hurairah, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Tujuh golongan yang Allah naungi di bawah naungan-Nya, di hari tiada naungan selain naungan Allah…” Maka beliau mulai menyebutkan satu persatu golongan orang-orang yang beruntung itu hingga sampai pada, “…dan seorang hamba yang menyembunyikan infaq-nya kala bersedekah, sampai-sampai tangan kirinya tak mengetahui apa yang diinfaq-kan tangan kanannya…”

Ikhlas dalam bahasa Arab berasal dari kata akhlasha-yukhlishu, yang berarti “memurnikan sesuatu dari segala campuran dan kotoran”. Misalnya, air yang murni dalam bahasa Arab disebut dengan maaun khalish, dan keikhlasan niat disebut dengan ikhlaashun niyyah. Adapun dalam tataran amal shalih, ikhlas berarti menjadikan Allah sebagai tujuan utama dalam diam dan gerak seorang hamba. Di hatinya tak ada balasan yang dinanti selain balasan dari Allah.

Bukan sanjungan teman atas bacaan Al-Qur’an yang merdu, atau decak kagum jama’ah atas shalat yang nampak khusyu’, atau penghormatan tetangga atas gelar Haji tiap tahun yang berderet-deret, ataupun pujian masyarakat atas sumbangan renovasi mushalla kampung. Tidak! Ikhlas membersihkan hati seorang hamba Allah dari semua itu. Ikhlas bahkan akan mendorongnya untuk menyembunyikan semua itu hanya untuk Allah. Ia jadikan ibadahnya sebagai rahasia antara ia dan Allah, dan hanya ia dan Allah saja yang tahu. Baik itu berupa sedekah tersembunyi kepada fakir miskin yang tak ia kenal dan tak mengenalinya, atau munajat di tengah malam tempat ia mencurahkan segala resah di hati dengan bersujud di atas sajadah yang basah dengan air mata, ataupun puasa sunnah di kesehariannya sambil menjalani aktifitas seperti biasa.

Baginya, semua amal itu terlalu mahal untuk dibayar dengan segala gemerlap dunia, yang bahkan tak lebih berharga dari sayap nyamuk di hadapan Allah. Baginya surga itu amatlah mahal, sehingga sayang sekali jika amal yang ia kumpulkan selama hidupnya dipergunakan untuk membeli pujian orang lain, yang pasti akan lupa juga seiring dengan berjalannya waktu.

Seorang ulama pernah mengungkapkan: “Dan bagi seorang hamba yang benar-benar ikhlas, beribadah di depan manusia tidak jauh beda dengan beribadah di hadapan sekumpulan kambing…” Di sini bukan berarti manusia itu seperti kambing, tetapi maksudnya adalah kehadiran orang-orang di dekatnya tak akan merubah sedikitpun kelurusan niat di dalam hatinya.  Tak akan mengganggu konsentrasinya dalam ber-taqarrub kepada Allah. Tak akan membuatnya salah tingkah dengan memperindah tilawah qur’annya, atau memperlama sujudnya, atau menceritakan kepada semua orang pengalamannya di hadapan Ka’bah saat berhaji.

Bahkan di saat berdiri dalam shalat, ia merasa seolah-olah tak ada siapa-siapa di sekitarnya selain Allah yang terus mengawasi gerak-gerik hatinya. Yang apabila hati itu berpaling kepada sampah dunia, saat itu juga Allah tak sudi menerima amalnya. Begitu pula ibadah yang ditujukan untuk Allah semata akan berbeda pengaruhnya dari ibadah yang didirikan untuk mengais gelar Haji atau Kiyai atau Qari’. Ibadah yang murni akan membuahkan kelembutan hati, kesopanan tutur kata, keterjagaan mata dari segala yang makruh dan haram, dan perasaan terus diawasi oleh Allah yang kita kenal dengan Taqwa. Yang dengannya Allah menjaga seorang hamba agar tak mendekati kemaksiatan.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, Yaitu Al kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan- perbuatan) keji dan mungkar. dan Sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al ‘Ankabut: 45)

Namun, kemanusiaan kita tidak menjamin keikhlasan amal sejak awal sampai akhir. Tetap saja ada was-was syaithan yang mengusik. Untuk ini, sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah memberikan contoh yang begitu indah untuk dikenang. Tentang bagaimana menggadaikan dunia seisinya dengan janji Allah yang tak lekang oleh zaman. Perang Hunain adalah kisah indah itu. Saat itu persoalannya adalah siapa yang dipanggil di saat semua orang lari dari Rasulullah di lembah Hunain? Dan siapa yang dengan bergegas menyambut dengan teriakan "Labbaik!" hingga menggentarkan seluruh musuh yang berlindung di atas bukit? Bukankah kaum Anshar? Bukankah kaum Anshar yang menjadi kunci kemenangan pasukan ini? Pertimbangan manusiawi mengatakan, Ansharlah yang paling berhak mendapatkan harta rampasan Perang Hunain yang memenuhi lembah itu.

Tapi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam justru membagikannya kepada pemuka muallaf Makkah yang paling depan dalam melarikan diri dari pertempuran dan berkata, "Mereka tak akan berhenti sebelum mencapai laut!" Ada sesuatu yang mengganjal setelah pembagian itu, sesuatu yang disampaikan oleh Sa'd bin 'Ubadah radhiyallallahu ‘anhu, pemuka Anshar, dan membuat orang-orang Anshar dikumpulkan di sebuah padang gembalaan. Sang Nabi datang dan berbicara kepada mereka.

"Amma ba'du. Wahai semua orang Anshar, ada kasak-kusuk yang sempat kudengar dari kalian, dan di dalam diri kalian ada perasaan yang mengganjal terhadapku. Bukankah dulu Aku datang, sementara kalian dalam keadaan sesat lalu Allah memberi petunjuk kepada kalian melalui diriku? Bukankah dulu kalian miskin lalu Allah membuat kalian kaya? Bukankah dulu kalian bercerai-berai, lalu Allah menyatukan hati kalian?" Mereka menjawab, "Begitulah. Allah dan RasulNya lebih murah hati dan lebih banyak karunianya."

"Apakah kalian tak mau menjawabku, wahai orang-orang Anshar?" tanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mereka ganti bertanya, "Dengan apa kami menjawabmu Ya Rasulallah? Milik Allah dan Rasul-Nya lah anugerah dan karunia." Beliau bersabda, "Demi Allah kalau kalian menghendaki, dan kalian adalah benar lagi dibenarkan, maka kalian bisa mengatakan padaku: Engkau datang kepada kami dalam keadaan didustakan lalu kami membenarkanmu. Engkau datang dalam keadaan lemah lalu kami menolongmu. Engkau datang dalam keadaan terusir lalu kami memberikan tempat dan menampungmu!" Sampai di sini air mata pun mulai berlinang, pelupuk mereka terasa panas, dan isak tergugu mulai terdengar. "Apakah di dalam hati kalian masih terbersit hasrat terhadap sampah dunia, yang dengan sampah itu Aku hendak mengambil hati segolongan orang agar mau masuk islam?! Sedangkan keislaman kalian tak mungkin Aku ragukan?! Wahai semua orang Anshar, apakah tidak berkenan di hati kalian jika orang-orang pulang bersama unta dan domba, sedang kalian kembali bersama Allah dan Rasul-Nya ke tempat tinggal kalian?!"

Isak itu semakin keras, bahu mereka mulai terguncang hebat, air mata terus mengalir tak tertahan. Ucapan Sang Nabi yang lembut itu telah menyentuh qalbu mereka yang terdalam dan menginsyafkan hati mereka. "Demi Dzat yang jiwa Muhammad dalam genggaman-Nya, kalau bukan karena hijrah tentu Aku termasuk orang-orang Anshar. Jika manusia menempuh suatu jalan di celah gunung, dan orang-orang Anshar memilih celah gunung yang lain, tentulah Aku akan memilih jalan yang dilalui orang-orang Anshar. Ya Allah, sayangilah orang-orang Anshar, anak-anak orang Anshar, dan cucu-cucu orang Anshar."

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menutup nasihatnya dengan do'a yang begitu menentramkan hati orang-orang Anshar. "Kami ridha kepada Allah dan Rasul-Nya dalam pembagian ini..., dan kami ridha, Allah dan Rasul-Nya menjadi bagian kami..."

Wallahul Haadi ilaa aqwamit thariiq.

Redaksi, dari berbagai sumber